Tuna Asap Citayam
Jauh dari laut bukan berarti tak bisa mengolah ikan laut. Hal ini telah dibuktikan Amril Lubis, pengusaha Ikan Asap Petikan Cita Halus yang berlokasi di Citayam, Depok, Jawa Barat. Lelaki 62 tahun itu sejak lima tahun berhasil memproduksi tuna asap dengan bahan baku yang diperolehnya dari Muara Angke dan Muara Baru, Jakarta.
Menurut Amril yang merupakan pensiunan salah satu perusahaan minyak tersebut, permintaan tuna asap cukup tinggi jika dibandingkan dengan ikan asap jenis lain yang juga dibuatnya. Karena itulah dia memproduksi tuna asap meski harus membeli bahan baku sampai ke luar daerahnya. Amril menyebutkan, nilai penjualan tuna asap mencapai sekitar Rp 205 juta pada 2006, lalu meningkat jadi Rp 235 juta pada 2007 dan pada 2008 mencapai Rp 210 juta.
Tingginya permintaan tersebut, kata Amril, karena daging tuna tebal dan bisa diolah jadi daging untuk hamburger. Dia mengaku, saat ini ada pemilik usaha hamburger dengan beberapa cabang di Jakarta yang rutin mengambil tuna asap darinya.
Produksi Terbatas
Dijumpai ketika sedang mengikuti Pameran Pangan Nusa 2009 yang diadakan oleh Pusat Dagang Kecil dan Menengah Departemen Perdagangan beberapa waktu lalu di Jakarta, Amril berkisah, mulai memproduksi ikan asap air laut sejak 2004. Yakni setelah mengikuti pameran yang diselenggarakan Departemen Koperasi dan UKM. Kala itu Amril baru memproduksi ikan asap air tawar.
Dua hari setelah pameran, pihak Giant (Hero Supermarket) menelepon dan mengajak kerjasama untuk memasukkan produk, kata Amril. Ikan asap Amril telah mengantongi surat keterangan dari Depkes RI, label halal, tanggal kadaluwarsa dan tentu saja bermerek.
Kini pihaknya bahkan sedang dalam proses kerjasama untuk memasukkan produk ke Carrefour. Tidak hanya itu, waralaba lokal seperti Indomaret hingga Tip Top juga sudah mengajukan kerjasama. Kontrak kerjasama terakhir dilakukannya tiga bulan yang lalu (sekitar Mei 2009) dengan Hypermart. Nilai kontrak mencapai sekitar 100 juta, akunya.
Kendati sudah menjalin kerjasama dengan banyak pihak dalam hal pemasaran, Amil mengatakan baru bisa melakukan produksi sesuai pesanan saja. Sebab, kapasitas gudang penyimpanannya terbatas sehingga produksinya juga terbatas. Dalam 1-2 hari produksi, freezer (ruang pembekuan) sudah penuh. Artinya, produksi harus berhenti, kata Amril yang saat ini memiliki 5 buah freezer berukuran besar dan 6 buah freezer berukuran kecil yang masing-masing memiliki kapasitas 800 dan 108 liter.
Dari sini dia berharap bisa memperbesar gudang penyimpanannya sehingga produksi tuna asap bisa ditingkatkan tak terbatas pada pesanan. Atau kalau tidak, harus selalu melakukan promosi agar serapan pasar semakin besar dan permintaan meningkat. Tak heran jika Amril rajin mengikuti pameran produk UKM di berbagai daerah. Bahkan, dia pernah mengikuti pameran di Kuala Lumpur, Malaysia sebanyak dua kali. Yaitu pada tahun 2006 yang difasilitasi oleh MUI dan Deperindag Agro Jabar. Lalu pada 2007 difasilitasi oleh Pertamina
Kemas Ukuran Kecil
Dalam pemasarannya, Amril awalnya mengemas secara kiloan. Namun, ukuran ini ternyata tidak sesuai untuk konsumen rumah tangga serta harganya terlalu mahal. Maka dia kemudian mengemas tuna asapnya dalam ukuran yang lebih kecil. Sekarang saya menggunakan kemasan 205 gram yang lebih terjangkau dan ideal bagi konsumen rumah tangga, ungkapnya.
Saat ini harga tuna asap ukuran 205 gram adalah Rp 18.000 dan tuna asap kiloan Rp 80.000, sebutnya. Meski begitu, ia tetap mengemas secara kiloan untuk memenuhi pasar supermarket. Dengan harga jual tersebut, keuntungan bersih yang bisa dia peroleh mencapai 20-30%.
Untuk bahan baku, Amril membelinya dalam bentuk ikan utuh maupun fillet. Kisaran harganya Rp27.000 per kg untuk tuna utuh dan sekitar Rp30.000 per kg untuk fillet. Kelebihan tuna sebagai bahan baku ikan asap ini adalah dagingnya tebal dan tidak ada duri pada bagian potongan daging yang diasap. Berat tuna yang digunakan sebagai bahan baku berkisar 5-10 kg per ekor. Mengolahnya tidak terlalu sulit karena ukurannya tidak terlalu besar. Selain itu, bagian ikan yang terbuang (loss) tidak banyak, lanjutnya.
Terkait hal tersebut, Kepala Divisi Pelatihan dan Diseminasi Teknologi/Koordinator PPUKM-IPB Pusat Pengembangan SDM-LPPM-IPB yang selama ini menjadi pembina UKM ikan asap Petikan Cita Halus, Heru Sumaryanto menjelaskan, bahan baku yang masih segar menjadi prasyarat untuk mendapatkan mutu tuna asap yang baik. Semakin besar ukuran tuna akan semakin baik, bahkan jika lebih dari 30 kg, rendemen (daging yang bisa diperoleh) akan lebih banyak, katanya.
Namun, kata Heru lagi, untuk usaha pengasapan tuna secara perorangan, ketentuan ini tidak berlaku. Dia juga menyebutkan, ketersediaan bahan baku untuk tuna asap cukup melimpah
Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi September 2009
::: PPUKM - IPB ~ Program Perkuatan Unit Usaha Kecil & Menengah Produk Agroindustri - Institut Pertanian Bogor (Bogor Agricultural University) ::: ... 
April 7th, 2010 at 10:13 pm
Assalamu ‘alaikum.
Salam sukses.
Saya sedang memulai usaha dibidang pengolahan,smoga webste ini semakin maju dan berkembang sehingga dapat membantu kami sebagai pengusaha baru.
sukses selalu
wassalam.
April 29th, 2010 at 8:01 pm
wa’alaikumsalam
terima kasih mas diki
May 11th, 2010 at 2:04 pm
siang semua,
salam sukses.
kami dari PT.Makanan Sehat Nusantara Cibitung,sangat terkesan dari pemberitaan diatas,dan kami selaku perusahaan yang bergerah dalam procesing hasil laut terutama ikan tuna ingin sekali mengajukan kerja sama untuk pengandaan material dari produk yang bapak pasarkan.
untuk ketersediaan barang terjaga dan kualitas nya bagus ;
adapun produk kami tuna meat co,tn saku co,tuna steak dll.
untuk menghubungi :081387899696/02191870458 area marketing PT.MSN/puji